Menjelajah Jogja yang selalu Istimewa dan Nggak bikin Bosan



Jika berbicara tentang Jogja memang tidak pernah ada habisnya. Kota pelajar ini selalu berhasil jadi kota yang istimewa setiap kali saya berkunjung ke sini. Walaupun sudah berkali-kali pergi ke Yogyakarta, tetapi setiap berkunjung kembali rasanya seperti pertama kali. Selalu ada kesan yang berbeda dan menjadi kenangan yang indah. Oleh karena itu, Yogyakarta menjadi salah satu kota yang membuat rindu.

Ya, minggu lalu saya dan teman saya bernama Bima menjelajahi Yogyakarta seharian penuh dari mulai terbit hingga matahari terbenam. Banyak tempat yang kami coba explore seperti wisata alam, wisata kuliner, kebudayaan, dan belanjaannya. Perjalanan dimulai pada pukul 2 pagi, kami berangkat dari Magelang menggunakan sepeda motor. Akses untuk menuju setiap spot wisata yang ingin kami datangi mudah dijangkau, baik itu dengan kendaraan roda dua maupun roda empat.

Walaupun saya dan Bima cukup sering ke Yogyakarta akan tetapi tetap membutuhkan Google Maps sebagai penyelamat agar tidak tersesat di jalan. Selama seharian penuh melakukan perjalanan, kami tidak lupa untuk mengabadikan moment tersebut. Bima menggunakan kameranya sebagai alat untuk memotret dan merekam traveling kami.

Saya dan Bima memilih hari Senin karena untuk menghindari keramaian dan kemacetan. Disamping itu, jika weekdays biasanya harga tiket masuk objek wisata lebih terjangkau.

Gunung Api Purba Nglanggeran

Tujuan pertama kami adalah melihat sunrise di Gunung Api Purba Nglanggeran. Kami sampai di tempat tujuan sekitar pukul 4 pagi. Sesampainya di sana, kami melakukan pendakian selama kurang lebih 1 jam. Selama perjalanan mendaki, banyak pepohonan yang menghiasi objek wisata ini. Jika lelah, kami beristirahat di gazebo yang telah disediakan sambil menikmati pemandangan lampu-lampu dari bawah seperti bintang yang berkelap-kelip.

Walaupun cukup melelahkan, rasa lelah tersebut terbayar saat sudah sampai di puncak. Saya dan Bima terpukau melihat pemandangan yang disajikan di atas gunung yang berbentuk bongkahan batu raksasa. Beruntungnya, ketika saya dan Bima pergi ke sini dalam keadaan cuaca yang bagus sehingga tidak ada kabut yang menghalangi. Langsung saja tanpa menunggu lama, saya berselfie dengan view sunrisenya. Sementara itu Bima asyik merekam proses dari sunrise tersebut.

Kami berada di Puncak Gunung Api Purba Nglanggeran sampai pukul 7 pagi lalu turun untuk perjalanan selanjutnya. Selama berada di jalan, kami mampir terlebih dahulu di sebuah warung makan untuk sarapan. Kemudian untuk mencapai lokasi kedua, jarak yang ditempuh adalah 22 km.

Tubing Goa Pindul

Yap, Tubing Goa Pindul menjadi target kedua kami untuk explore Yogyakarta. Tubing ini masih berada di kawasan Gunung Kidul. Kami sampai di tempat ini sekitar jam 9 pagi dan langsung saja Bima bertemu dengan temannya yang kebetulan adalah salah satu karyawan di tempat tersebut. Sebelumnya, kami sudah melakukan reservasi terlebih dahulu untuk melakukan tubing di Goa Pindul ini.

Kemudian kami diarahkan ke tempat pemakaian perlengkapan untuk tubing. Hal tersebut dilakukan untuk menjaga keselamatan. Saya dan Bima memakai helm, pelampung, sepatu karet, dan membawa ban karet. Kami juga didampingi oleh instruktur yang akan mendampingi kami selama tubing.

Dua kata yang saya rasakan ketika tubing yaitu basah dan seru. Sebab sepanjang jalur yang kami lewati penuh dengan ornamen-ornamen di dalam gua. Contohnya seperti stalaktit dan bebatuan bakal. Bima pun merasa tidak habis pikir karena terlalu terpesona dengan keindahan dari Goa Pindul.

Ayam Geprek Bu Rum

Setelah berwisata alam, saya dan Bima berbalik arah menuju kota untuk berwisata kuliner, walaupun sebelumnya kami sudah makan di daerah Tubing Goa Pindul karena laper banget hehe. Nah, selanjutnya tujuan kami adalah makan siang di Ayam Geprek Bu Rum. Rumah makan ini berada di kawasan Universitas Sanata Dharma. Hampir semua mahasiswa di Yogyakarta menjadikan tempat ini rekomendasi untuk makan siang.

Cukup dengan biaya kurang dari Rp 20.000, kamu sudah bisa makan ayam geprek dengan nasi sepuasnya. Kamipun makan dengan lahap, kemudian karena porsi saya dan Bima berbeda, dia sampai nambah dua kali dan menikmati makanan tersebut.

Pasar Bringharjo

Tenaga dan mood sudah terisi kembali, saatnya kami melancong ke Pasar Bringharjo. Ini menjadi waktu favorit saya karena bisa tawar menawar barang yang ingin dibeli. Jika dilihat dari kualitas juga tidak kalah dengan produk yang ada di toko-toko besar kok. Pasar legendaris di Yogyakarta ini buka dari pagi hingga malam hari.

Kami berkeliling dari toko ke toko dan saya menemukan barang yang ingin dibeli. Saya tertarik dengan tas rotan yang saat ini sedang booming sebagai tren fashion. Lalu saya mencoba melakukan negosiasi harga dengan si Ibu penjual sampai sepakat. Kemudian dapat tas tersebut dengan harga yang saya inginkan. Bimapun hanya mengamati sambil geleng-geleng kepala melihat hebohnya saya menawar.

Taman Sari

Sudah puas berwisata belanja, saya diajak Bima untuk mengunjungi salah satu tempat bersejarah di Yogyakarta. Sekitar pukul 3 sore kami tiba di sana. Saat itu sedang ada penduduk sekitar yang sedang latihan menari. Sebelum hunting foto kami menonton tari tersebut. Anak-anak kecil yang cantik ini sungguh elok ketika menari tarian tradisional. Tidak mau kehilangan moment, Bima antusias memotret setiap gerakan tarian tersebut.

Oh iya, Taman Sari ini dahulu adalah benteng pertahanan dan konon katanya dibangun di atas puing-puing Pesanggrahan Garjitawati. Sampai saat ini bangunannya masih kokoh dan dijadikan objek wisata. Saya dan Bima mengitari bangunan ini dan memfoto setiap sisi pada dinding gapura yang antik dan menarik. Sanking menikmati suasana di Taman Sari, kami menghabiskan waktu di sini sampai tutup alias sekitar pukul 6 sore kemudian jajan di Alun-alun Timur. Kebetulan masih satu kawasan Keraton jadi jaraknya cukup dekat.

Monjali

Belum puas menikmati pesona Yogyakarta, kamipun pergi ke Monjali. Museum Monumen Yogya Kembali, merupakan sebuah museum sejarah perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia di kota Yogyakarta dan dikelola oleh Departemen Kebudayaan dan Pariwisata. Museum ini berada di bagian utara. Monjali menjadi salah satu tempat yang dikunjungi oleh para pelajar dalam acara darmawisata.

Melihat ornamen lampu warna-warni membuat saya dan Bima sangan terpukau. Tanpa menunggu lama, kami mengabadikan moment tersebut dengan senang hati. Kemudian kami berkeliling melihat setiap lampion yang dibentuk menyerupai berbagai karakter. Ini menjadi tempat terakhir kami untuk melakukan perjalanan pada hari itu.

Setelah itu kami kembali lagi ke Magelang dan pulang ke rumah masing-masing. Selama perjalanan pulang, kami bercerita tentang kesan kami selama seharian menjelajah Yogyakarta. Semua bisa kami rasakan dalam satu hari. Walaupun membutuhkan tenaga ekstra karena berpindah dari tempat satu ke tempat lain karena memburu waktu. Kami tidak merasa lelah karena hal tersebut tertutupi dengan keindahan dari masing-masing tempat yang kami kunjungi.

Semoga di lain waktu, saya dan Bima bisa menjelajah Yogyakarta kembali dengan mengunjungi tempat-tempat yang belum kami datangi.

9:47 PM - tanpa komentar

0 komentar untuk Menjelajah Jogja yang selalu Istimewa dan Nggak bikin Bosan.


Perlihatkan Semua Komentar Tutup Semua Komentar