DIABETES MELLITUS: Faktor Penyebab, Jenis Pencegahan dan Pengobatan

Diabetes berasal dari kata Yunani, yaitu diabainein yamg berarti “tembus” atau “pancuran air”, sementara Mellitus berasal dari kata Latin yang berarti “rasa manis”. Di Indonesia dan negara berbahasa Melayu, Diabetes Mellitus (DM ) lebih dikenal sebagai penyakit “kencing manis”.

Berdasarkan keterangan dari data WHO, Indonesia menduduki urutan ke-4 terbesar dalam jumlah penderita DM di dunia. Pada tahun 2000 yang kemudian saja ada sekitar 5,6 juta warga Indonesia yang mengidap DM. Pada tahun 2006 diduga jumlah penderita bertambah tajam menjadi 14 juta orang, dimana baru 50% yang sadar mengidapnya dan diantara mereka baru 30% yang datang berobat secara teratur. Dan masih tidak sedikit penderita yang tidak menyadari bahwa dirinya mengidap penyakit DM ini, urusan ini mungkin diakibatkan minimnya informasi masyarakat mengenai DM, khususnya gejala-gejalanya.

DM ialah suatu penyakit dimana kadar glukosa (gula sederhana) didalam darah tinggi sebab tubuh tidak dapat mencungkil atau memakai insulin secara cukup.

Insulin ialah hormon yang dicungkil oleh pankreas, yang bertanggung jawab dalam menjaga kadar gula darah yang normal. Insulin memasukkan gula kedalam sel sehingga dapat menghasilkan energi atau cadangan energi.

Tanda dan Gejala Diabetes Mellitus
Ada sejumlah gejala umum penyakit diabetes dimana seseorang seharusnya memeriksakan pada dokter. Terutama untuk orang yang berumur lebih dari 45 tahun, sangat urgen untuk tidak jarang kali memeriksakan kadar glukosa darahnya masing-masing tahun. Alasan mengapa tidak sedikit orang tidak memahami bahwa mereka menderita diabetes sebab mereka memandang ringan gejala-gejala diabetes atau tidak menikmati gejalanya.

Tanda dan gejala mula DM bersangkutan dengan efek langsung dari kadar gula darah yang tinggi, hingga diatas 160 – 180 mg/dL, maka glukosa bakal sampai ke air kemih. Jika kadarnya lebih tinggi lagi, ginjal akan melemparkan air ekstra untuk mencairkan sejumlah besar glukosa yang hilang. Karena ginjal menghasilkan air kemih dalam jumlah yang berlebihan, maka penderita tidak jarang berkemih dalam jumlah yang tidak sedikit (poliuri).

Gejala beda DM ialah :
  1. Pandangan kabur.
  2. Pusing, mual dan berkurangnya keawetan selama mengerjakan olah raga.
  3. Penderita merasakan penurunan berat badan meskipun makannya diperbanyak.
  4. Sering kencing dimalam hari.
  5. Rasa lapar lebih.
  6. Cepat lelah dan lesu.
  7. Luka Sukar sembuh.
  8. Infeksi kulit dan gatal-gatal.
  9. Kesemutan dan mati rasa di dekitar kaki.
  10. Penyebab Diabetes Mellitus
Banyak hal yang mengakibatkan seseorang mempunyai resiko terkena DM.
  1. Faktor keturunan dari ayah atau ibu, saudara laki-laki atau wanita yang menderita DM.
  2. Kegemukan (obesitas). DM yang timbul dampak kegemukan ini seringkali terjadi pada umur lanjut alias umur diatas 40 tahun.
  3. Gestational Diabetes atau mencetuskan bayi dengan berat > 4 kg.
  4. Tekanan darah tinggi.
  5. Kadar trigliserid dan kolesterol yang tinggi dalam darah.
  6. Gaya hidup canggih yang cenderung tidak sedikit mengkonsumsi makanan instan.
  7. Merokok dan stres.
  8. Kerusakan pada pankreas.
  9. Obat-obatan dari riwayat penyakit mula-mula yang bisa merusak pankreas.
  10. Terlalu tidak sedikit mengkonsumsi karbohidrat.
  11. KRITERIA DIAGNOSTIK GULA DARAH

BUKAN DIABETES
mg/dL
PRE DIABETES
mg/dL
DIABETES
mg/dL
Puasa<110110-125 126
Sewaktu<110110-199≥ 200
Seseorang disebutkan mengidap fenomena penyakit DM bilamana hasil pengecekan kadar gula darah puasa melebihi 120 mg/dL dan 2 jam sesudah santap > 200 mg/dL

Tipe Diabetes Mellitus

Ada 3 tipe Diabetes Mellitus :
  1. Diabetes Mellitus tipe 1 (Insulin Dependent Diabetes Mellitus = IDDM)
  2. Diabetes Mellitus tipe 2 (Non Insulin Dependent Diabetes Mellitus = NIDDM)
  3. Diabetes Mellitus tipe 3 (Gestational Diabetes), resistansi insulin yang terjadi pada perempuan hamil, mencetuskan bayi dengan berat > 4 kg. Umumnya sembuh dengan sendirinya sesudah persalinan.
Diabetes Mellitus Tipe 1
  • Penderita menghasilkan tidak banyak insulin atau tidak sama sekali.
  • Umumnya terjadi sebelum umur 30 tahun, yakni anak-anak dan remaja.
  • Faktor resikonya ialah obesitas, dimana selama 80 – 90% penderita merasakan obesitas.
  • 90% sel penghasil insulin (sel beta)mengalami kehancuran permanen. Terjadi kelemahan insulin yang berat dan penderita mesti menemukan insulin secara teratur.
  • Merupakan penyakit auto-immune dimana sistem pertahanan tubuh alami menghancurkan unsur tubuh yang lain. Dalam permasalahan diabetes type 1 ini, sistem tubuh menyerang dan merusak sel-sel yang memproduksi hormon insulin, sampai-sampai pankreas tidak bisa memproduksi hormon insulin. Dan untuk menjaga hidupnya, penderita diabetes type 1 ini memerlukan suntikan hormon insulin masing-masing harinya. Dari seluruh permasalahan diabetes, 5% hingga 10% ialah diabetes type 1.
  • Timbul tiba-tiba
  • Berkembang dengan cepat kedalam suatu suasana yang dinamakan dengan ketoasidosis diabetikum (sel lemak pecah dan menghasilkan keton, yang adalahkimia beracun yang yang dapat menyebabkan darah menjadi asam).
Diabetes Mellitus Tipe 2
  • Pankreas tetap menghasilkan insulin, kadang kadarnya lebih tinggi dari normal. Tetapi tubuh menyusun kekebalan terhadap efeknya, sampai-sampai terjadi kelemahan insulin relatif.
  • Bisa terjadi pada anak-anak dan dewasa.
  • Para ilmuwan percaya bahwa hal lingkungan (berupa infeksi virus/faktor gizi pada masa kanak-kanak/awal dewasa) mengakibatkan sistem kekebalanmenghancurkan sel penghasil insulin di pankreas
  • Diatasi dengan penyembuhan oral dan melulu membutuhkan insulin bila obatnya tidak efektif.Cenderung diturunkan secara genetik dalam keluarga.
  • Terjadi sebab kombinasi dari “kecacatan dalam buatan insulin” dan “resistensi terhadap insulin” atau “berkurangnya sensitifitas terhadap insulin”(adanya defek respon jaringan terhadap insulin) yang melibatkan reseptor insulin di membran sel.
  • Tidak ada fenomena selama sejumlah tahun. Jika insulin berkurang semakin parah, maka tidak jarang berkemih/kencing dan tidak jarang merasa haus.
  • Jarang terjadi ketoasidosis diabetikum.
Saat ini, diabetes tipe 1 melulu dapat diobati dengan memakai insulin, dengan pemantauan yang teliti terhadap tingkat glukosa darah melewati alat monitor pengujian darah. Pengobatan dasar diabetes tipe 1, bahkan guna tahap paling mula sekalipun, ialah penggantian insulin. Tanpa insulin, ketoasidosis diabetikum dapat menyebabkan koma bahkan dapat mengakibatkan kematian. Penekanan juga diserahkan pada penyesuaian gaya hidup (diet dan olahraga). Terlepas dari pemberian injeksi pada umumnya, pun dimungkinkan pemberian insulin melewati pump, yang memungkinkan guna pemberian masukan insulin 24 jam sehari pada tingkat takaran yang sudah ditentukan, pun dimungkinkan pemberian takaran (a bolus) dari insulin yang diperlukan pada ketika makan. Serta dimungkinkan pun untuk pemberian masukan insulin melewati “inhaled powder”.

Perawatan diabetes tipe 1 mesti berlanjut terus. Perawatan tidak akan memprovokasi aktivitas-aktivitas normal bilamana kesadaran yang cukup, perawatan yang tepat dan kedisiplinan dalam pengecekan dan penyembuhan dijalankan. Tingkat glukosa rata-rata guna pasien diabetes tipe 1 mesti sedekat barangkali ke angka normal (80-120 mg/dl, 4-6 mmol/l). Beberapa dokter menganjurkan sampai ke 140-150 mg/dl (7-7.5 mmol/l) guna mereka yang bermasalah dengan angka yang lebih rendah. laksana “frequent hypoglycemic events”. Angka di atas 200 mg/dl (10 mmol/l) seringkali dibuntuti dengan rasa tidak nyaman dan buang air kecil yang terlalu tidak jarang sehingga mengakibatkan dehidrasi. Angka di atas 300 mg/dl (15 mmol/l) seringkali membutuhkan perawatan segera mungkin dan dapat menuju ketoasidosis. Tingkat glukosa darah yang rendah, yang dinamakan hypoglycemia, dapat mengakibatkan kejang atau seringnya kehilangan kesadaran.

Terapi Suntik Insulin Untuk Penderita DM Tipe 1

Insulin disuntikkan dibawah kulit ke dalam lapisan lemak, seringkali di lengan, paha atau dinding perut. Insulin dihancurkan di dalam lambung.

Insulin ada dalam 3 format dasar, setiap mempunyai kecepatan dan lama kerja yang berbeda.

1. Insulin Kerja Cepat.
Contohnya ialah insulin reguler, yang bekerja sangat cepat dan sangat sebentar. Insulin ini menurunkan kadar gula dalam masa-masa 20 menit, menjangkau puncaknya dalam masa-masa 2 – 4 jam dan bekerja sekitar 6 – 8 jam., tidak jarang kali dipakai oleh penderita yang menjalani sejumlah kali suntikan masing-masing harinya dan disuntikkan 15 – 20 menit sebelum makan.

2. Insulin Kerja Sedang.
Contohnya ialah insulin suspensi seng atau suspensi insulin isofan.

Mulai bekerja dalam masa-masa 1 – 3 jam, menjangkau puncak maksimum dalam masa-masa 6 – 10 jam dan bekerja sekitar 18 – 26 jam.

Insulin ini disuntikkan pada pagi hari guna memenuhi keperluan selama sehari dan bisa disuntikkan pada malam hari guna memenuhi keperluan sepanjang malam.

3. Insulin Kerja Lambat.
Contohnya ialah insulin suspensi seng yang sudah dikembangkan.

Efeknya baru timbul sesudah 6 jam dan bekerja sekitar 28 – 36 jam.

Diabetes Pada Anak-Anak
Diabetes yang terjadi pada anak-anak dikenal sebagai juvenile diabetes, tetapi pun sering dinamakan sebagai diabetes type 1. Karena jenis diabetes yang tidak jarang terjadi pada anak-anak dibawah usia 16 tahun ialah diabetes type 1, dengan jumlah permasalahan sekitar 90% – 95%. Juvenile diabetes diakibatkan oleh ketidak-mampuan pankreas guna menghasilkan hormon insulin. Merupakan penyakit autoimmune, yang berarti sistem pertahanan tubuh menyerang organ/ unsur tubuh yang lain.
Dalam kurun masa-masa 30 tahun terakhir, permasalahan juvenile diabetes bertambah 3 kali lipat. Dan di Eropa dan Amerika Serikat, sekarang muncul permasalahan diabetes type 2 pada anak-anak guna kesatu kalinya. Penyebabnya diduga karena hal genetika dan hal lingkungan. Tetapi beberapa besar penderita tidak memiliki sejarah family dengan diabetes.
  • Sirkulasi darah yang buruk ini melewati pembuluh darah besar dapat melukai otak, jantung dan pembuluh darah kaki (makro angiopati). Sedangkan pembuluh darah kecil dapat melukai mata, ginjal, saraf, kulit dan memperlambat pengobatan luka.
  • Penderita DM dapat mengalami sekian banyak  komplikasi jangka panjang andai diabetesnya tidak dikelola dengan baik. Komplikasi yang lebih tidak jarang terjadi dan mematikan ialah serangan jantung dan stroke.
  • Kerusakan pada pembuluh darah mata dapat menyebabkan gangguan penglihatan dampak kerusakan pada retina mata (retinopati diabetikum).
  • Kelainan faedah ginjal dapat menyebabkan tidak berhasil  ginjal, sampai-sampai penderita mesti menjalani cuci darah (dialisa).
DM menjadi penyebab kematian 50% dampak penyakit jantung koroner dan 30% dampak gagal ginjal. Di samping kematian DM pun menyebabkan kecacatan.

Sebanyak 30% penderita DM merasakan kebutaan dampak komplikasi retinopati dan 10% mesti menjalani amputasi tungkai kaki, bahkan DM membunuh lebih tidak sedikit dibandingkan HIV/AIDS.

Menangani dan Mencegah Diabetes Mellitus
Untuk memahami atau mendiagnosa penderita DM sangatlah mudah. Diantaranya bisa diketahui dari keluhan tidak jarang kencing (polyuri), tidak jarang minum (polydipsi), sering santap (polyfagi), badan mengurus dengan menyeluruh serta lemas. Sudah dapat ditebak bahwa seseorang tersebut menderita penyakit DM. Apalagi saat mengecek kadar gula darah yang acaknya melebihi 200 mg/dl.

Selain pengecekan kadar gula darah random sebagai etape penanganan, butuh juga dilaksanakan pemeriksaan kadar gula darah puasa (puasa 8 jam sebelum pemeriksaan) dan kadar gula darah 2 jam setelah santap untuk sebatas konfirmasi angka kadar gula darah random yang sudah Anda dapatkan.

Pada penderita DM, kadar gula darah puasa > 120 mg/dl. Sedangkan pada kadar gula darah 2 jam setelah santap > 200 mg/dl. Pemeriksaan beda yang pun perlu ialah pemeriksaan kadar gula darah dalam urine/kencing yang hasilnya positif.

Adapun sebagai upaya pencegahan supaya terhindar dari resiko penyakit DM, metodenya antara lain:
  1. Menjaga pola santap dan gaya hidup sehat yang baik dan seimbang.
  2. Cukup istirahat.
  3. Olah raga secara teratur dan teratur.
  4. Hindari stres berat.
  5. Selalu tersenyum.
  6. Memonitor kadar gula darah.
  7. No smoking.

04.24 - tanpa komentar